Seusai pulang sekolh Nadia dan Vina berencana menengok Rini. Sudah tiga hari ini Rini tidak masuk sekolah. Dua hari yang lalu, ibunya Rini menemui Pak Salman. Pak Salman adalah wali kelas Rini. Ibunya Rini memberitahukan bahwa anaknya terserang diare. Pak Salman menyuruh anak-anak kelas lima untuk membesuk Rini. Sedangkan, Pak Salman akan membesuk Rini nati sore. Ana-anak yang lain pun rencananya akan menjenguk Rini nanti sore bersama Pak Salman.
Jam pelajaran telah usai. Anak-anak kelas lima saling berebut untuk keluar kelas. Terutama anak laki-laki saling dorong. Malah, ada beberapa anak yang terjatuh gara-gara dorongan itu. Ada juga anak perempuan yang berteriak untuk menghentikan aksi saling dorong itu. Pak Salman hanya menggelengkan kepalanay. Gara-gara aksi saling dorong itu, tangan kanan Vinatergores gagang pintu yang menancap di pintu kelasnya.
"Kamu tidak apa-apakan?" Tanya Nadia sambil memegang tangan Vina.
"Aduh perih nih. Dasr anak-anak bandel. Coba kalau ngak dorong-dorong. Tanganku nggak akan begini." Ucap Vina sewot
" Kita ke UKs dulu kalau begitu." Sahut Nadia Lembut.
"Sudahlah. Tidak usah. Lukanya tidak begitu parah kok.Tangan ku cuma tergores. Lebih baik kta langsung ke rumah Rini, yuk!"
Nadia menganggukan kepalanya. Nadia dan Vina bersama anak-anak SD Cempaka berbondong-bondong ke luar dari gerbang sekolah. Mereka segera menginggalakan gedung sekolahnya. Mereka berjalan ke arah utara menuju rumah Rini, mereka melewati persawahan. Mereka berjalan di atas pematang sawah. Di sepanjang jalan, mereka mengamati para petani yang sedang memanen padi-painya. Selama beberapa hari ini desa mereka sering diguyur hujan. Air hujan membuat tanah menjai basah dan licin. Mereka membuka sepatu mereka dan berjalan tanpa alas kaki. Sementara tangan kanan mereka menjinjing sepatu.
Rumah Rini letaknya cukup jauh dari sekolah. Hampir setengah jam Nadia dan Vina berjalan. Kini sudah tampak rumah Rini yang dindingnya semi permanen. Bagian atas dinding sampai ke bagian tengahnya terbuat dari bilik bambu. Sementara yang lainnya terbuat dari tembok. Tapnya terbuat dari pohon enau sedangkan lantainya beralaskan tanah. Di depan rumah itu tamapak Arya sedang makan di depan bambu. Arya adalah adik Rini. Nadia dan Vina segera memakai sepatunya kembali. lalu, mereka menghampiri Arya.
"Araya, kak Rini ada?" Tanya Vina sambil memberikan lima butir permen. Arya meletakkan piringnya yang masih penuh dengan nasi tanpa lauk pauk. Dia tampak senang ketika melihat permen di tangan kanan Vina. Arya membuka tangan kanannya dengan beberapa butir nasi yang melekat di tangannya.
"Asyik permen. Kak Rini lagi sakit. Sekarang sedang tidur di kamarnya."
"Arya kalau diberi bilang apa coba?" Nadia mengingakan Arya.
"Thank you" Jawab Arya sambil berlari masuk ke rumah.
"Arya, kok makanannya tidak dihabiskan, masih banyak nasinya di piring." Teriak Nadia.
Arya menoleh ke belakang. "Habis, makananya nggak enak. Aku pilih makan permen saja."
Arya masuk ke rumah. Tiba-tiba ibu Rini muncul dari dalam rumah. Ia menyuruh mereka masuk ke rumah. Di ruang tamu, ibunya Rini bercerita kalau Rini sakit diare gara-gara makan nasi aking.
Hati Nadia dan Vina menjadi tersentuh. Tak pernah terpikirkan sebelumnya. Ternyata, Rini harus memekan nasi seprti itu. Kemudian, Rini muncul dari balik pintu kamar tidurnya. Mukanya tamapak begitu pucat.
"Eh, kalian ada di sini. Maaf y beberapa hari ini aku tdak bisa beljar bersama-sama kalian," Jawab Rini. Badannya yang lemah lunglai dan bibirnya tampak pecah-pecah.
"Tidak apa-apa kok. Sebaiknya kamu isitirahat saja" Jawab Vina.
"Tadi aku sudah banyak istirhat kok. Lagi pula, ibu sudah memberiku segelas air larutan garam dan gula. Perutku sudah tidak kembung lagi," Jelas Rini.
Jam menunjukkan pukul setengah dua. Nadia dan Vina pamit kepada ibunya Rini. Mereka pun berharap agar Rini cepat sembuh dan bisa sekolah lagi. Di sepanjang perjalanan pulang mereka membicarakan nasi aking.
"Kasihan Rini. Aku jadi malu sendiri. Habis selama ini aku suka membuang-buang nasi. Kalau aku makan jarang sekali habis. Akhirnya, aku membuang nasi itu ke tong sampah," Lirih Nadia.
Vina pun mengangguk. Mereka baru sadar jika membuang nasi itu merupakan perbuatan yang buruk. Membuang-buang nasi menunjukkan sikap tidak bersyukur kepada Tuhan. Nadia dan Vina berjanji tidak akan membuang-buang nasi lagi. Sebelum berpisah, mereka sepakat untuk mengajak teman-temannya untuk mengumpulkan beras.
Keesokan harinya mereka mengajak anak-anak di kelas untuk menyumbangkan beras untuk Rini. Esok lusanya, Pak Salman dan teman-teman sekelas Rini menyerah sekarung beras untuk keluarga Rini. Ibu Rini tamapk terharu menerimanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar